Titik Rindu : Aku Pamit


"Pada akhirnya cinta akan saling menyakitkan, bagaimana mungkin tidak? karena cinta diciptakan untuk dimiliki oleh dua insan yang saling berbalas"

      Dear J, kini aku menyerah! Menyerah pada waktu untuk tidak terus keras berjuang, bertahan pada rasa sakit yang berkepanjangan. Aku tahu bahwa kamu memang tidak diciptakan untuk ku, dan kamu hanya singgah sesaat dalam kasih yang penuh harapan. Andai saja dulu kamu tidak membuat pesan yang menggetarkan hati mungkin aku pun tidak akan menyambut rasa yang singgah, dan jika saja kamu tidak berkata kehadiranku adalah hal yang membuat kamu nyaman mungkin aku tidak akan terus bertahan dan menanti sebuah jawaban yang sudah lama aku impikan. 
    Kini, tidak ada lagi kisah yang penuh harap, yang ada hanya harapan sepihak dariku yang mungkin saja tidak kamu ketahui sedikitpun. Cerita yang aku bagikan di dawai pun tidak pernah kamu lihat, pesan yang ku sampaikan pun hanya dibalas dengan perkataan dingin. lalu haruskah aku kembali untuk bertahan?
     Aku pun kini sadar bahwa cintaku telah bertepuk sebelah tangan, berakhir, sudah tidak ada lagi harap. Kamu begitu bahagia dengan kehidupan mu sekarang dengan orang-orang yang mungkin lebih membuatmu nyaman. Aku juga lihat kamu saat ini sedang penuh dengan tawa bersama mimpi yang mungkin sedang kamu perjuangkan. Namun terkadang aku ingin bertanya, setidaknya, apakah kamu tidak ingin menanyakan kabar ku? kabar dari seseorang yang telah berjuang keras sendirian untuk selalu mendoakan mu, atau terkadang aku berharap ada kata ajakan untuk saling bertemu. Bagaimana bisa aku bertahan dikala rindu pun tidak menemukan jawaban?
     Dear J, jujur sebenarnya aku ingin tetap mencinta dalam diam, namun kamu telah menghilangkan rasa warasku dan memberikan sakit berkepanjangan. Aku pun layak bahagia, seperti kamu yang bisa merasakan hal yang sama di saat tidak ada aku sekalipun. Sungguh kini aku benar-benar bosan menyimpan rasa, namun tidak mudah bagiku untuk mengungkap kata cinta. Andai saja aku mudah mencinta, mungkin setidaknya akan hadir sosok lain yang dapat menutup luka karena mu. 
    Hai J setelah 2 tahun aku menyimpan rasa dalam diam, sudah saatnya aku menggurui diriku bahwa kamu bukan untukku, dan untuk apa bertahan dan berjuang untuk seseorang yang tidak diciptakan untuku, pada akhirnya aku percaya apa yang memang sudah menjadi takdir kita, akan kembali kepada kita. Kini biarkan aku pergi dengan rasa sakit ini, dan aku pun akan berhenti mengharapkan dirimu. Namun izin kan aku kali ini berbisik pada Tuhan, mengungkap rasa dan meminta maaf atas perasaan yang mungkin telah mengubah sedikit waras ku :

   
“Tuhan, engkau-lah maha tahu segalanya dan engkau penguasa seluruh alam semesta, sang penentu takdir umat manusia. Tuhan, rasa ini bukanlah aku yang ingin, bukan pula aku yang buat. Rasa ini muncul dengan sendirinya seperti seorang anak yang selalu menghampiri sang induknya. Sama seperti umat mu yang mungkin mempunyi cinta yang wajar yang memiliki perasaan yang muncul dengan sendirinya. Tuhan, aku tak mengerti dengan apa yang aku rasakan, dan mengapa aku menjadi orang yang berbeda. Ingin aku mencinta seperti orang kebanyakan, namun tuhan, bagaimana mungkin aku mencinta kertika rasa ini merupakan rasa yang berbeda. Ingin aku bahagia seperti orang kebanyakan meimiliki dia yang dikasihi, namun bagaiamana mungkin aku bisa bahagia jika aku ini berbeda. Bahkan ketika aku mulai mencinta pun, bukan bahagia yang aku rasakan, namun justu perih yang aku dapatkan karena aku tahu cinta ini tidak akan pernah bisa dipertaruhkan. Tuhan, aku harus bagaimana? Aku terlalu lelah untuk mencinta dalam keadaan yang diam. Tuhan aku harus kemana atau aku harus bagaimana? Tuhan, aku lelah “

Dear J terimakasih atas banyak pembelajaran, kini aku PAMIT. 




Komentar

Postingan Populer