Titik Rindu : Aku dan Nadir (Kolaborasi Hati Bersama Fiersa Besari)
Hai J, sudah lama aku tidak kembali menulis, sore ini Jakarta sangat hangat sehingga membuatku berdiam diri merenungkan kisah yang juga pernah hangat di kala senja. Inilah masa yang menyakitkan ketika aku tidak bisa mengulang masa yang kian tiada. Aku menangis kemudian menghela nafas yang berkepanjangan. Kemudian Aku teringat dengan ;
"Nadir"
Sebuah karya indah dari Fiersa Besari berisi lirik hati yang terpecah belah dengan hati yang keras kepala. Ada susun kata yang sungguh menggugah rasa, membangung perih, melalui karya yang penuh lirih. Lagu ini berkata ;
" Bolehkah kita mengulang, masa-masa Indah itu. Ku tak mengerti apa yang terjadi hingga berakhir. Bagaimanakah kabarmu, berhasilkah kau lupakan ku? diriku yang bodoh ini, masih mendamba hadirmu"
Dear J, bagaimana mungkin ku tidak merasa perih ketika lagu mulai berucap tentang apa yang benar-benar aku rasakan. Ku ulang penggalan bait ini, beribu kali sampai aku merasa cukup tak akan mengurai air mata. "Bagaimana Kabarmu?" adalah kalimat yang sangat ingin aku ucapkan, namun bagaimana mungkin aku bisa berucap jika tidak ada lagi harap. Pada akhirnya, aku hanya takut jika kamu benar-benar lupa, daripada aku memaksakan untuk berucap tanya, lebih baik aku menjaga hati yang mungkin akan kembali patah ketika pesan terabaikan.
Sungguh!, mengulang masa itu adalah impian yang ku untai dalam doa, terkadang aku juga tidak tahu mengapa semua ini bisa berkahir disaat aku masih mendamba. Ingin juga aku bertanya tentang lupa, namun aku takut jika kamu membalas dengan "Iya".
Nadir pun kembali berkata :
"waktu kau sedih ku disini, waktu kau senang kau dimana?"
Dear J melalui lirik ini aku tersadar bahwa terkadang kau hadir disaat kau merasa sedih dan putus asa, lalu kemudian menghilang disaat tawa kembali datang. Karenanya, aku anggap aku ini bodoh, masih mendamba orang yang sudah jelas menyakitkan. Namun hati mau bagaimana? jika jatuh sudah bergabung dengan kata cinta, semua dibutakan seketika. Kemudian nadir memenggal rasa sambil berucap:
2018 kemarin tepat dibulan November adalah masa kita berjumpa, namun tidak saling tanya. Dear J, bagaimana bisa kau tidak datang menghampiri setelah banyak kisah yang kita perjuangkan bersama. Kau duduk tepat dibelakangku, kau juga berjalan didepanku. Namun tetap saja kita seperti orang asing tanpa kata tanya. Jadi bagaimana mungkin jika aku tidak berucap tanya?
"Sebelum dirimu pergi, dan janjimu hilang arti, lihatlah perjuanganku!
namun, jika memang harus berakhir sampai disini, biar ku berharap dengan Hati yang Keras Kepala"
Nadir tidak hanya sebuah karya, namun sungguh mewakilkan apa yang benar-benar aku rasa, seperti hati yang sedang berkolaborasi dengan Fiersa Besari sebagai pencipta. Dear J, dengarkanlah "Nadir".
Jakarta, 5/3/2019



Komentar
Posting Komentar